Selasa, 22/03/2011 21:55 WIB
Banjir Lahar Dingin Merapi Menerjang, 117 Warga Mengungsi Parwito – detikNews
Magelang – Akibat guyuran hujan di puncak Gunung
Merapi, banjir lahar dingin kembali menerjang daerah di sekitar Kali
Putih, Magelang. Sebanyak 117 Warga harus mengungsi dari rumahnya.
Mereka menambah daftar ratusan orang yang telah mengungsi sebelumnya.
117 warga tersebut berasal dari dusun Krapyak, Desa Sirahan, Kecamatan
Sirahan. Mereka diungsikan ke Dusun Gajahan, Desa Gulon, Kecamatan
Salam yang relatif lebih aman. “Kami khawatir kalau-kalau banjir lahar
dingin yang menerjang menjadi besar dan bernasib sama seperti di
Sirahan yang rumahnya rata-rata tenggelam,” ujar salah seorang
pengungsi dari Dusun Krapyak, Suryati, kepada detikcom, Selasa
(22/3/2011). Pantauan detikcom, dari Pos Pengamatan Merapi di Ngepos,
Srumbung, banjir lahar dingin terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Petugas
kemudian menyampaikan laporan kepada Tim SAR untuk menutup jalan
Magelang-Yogyakarta. “Penutupan hanya selama 30 menit karena banjir
relatif kecil. Setelah dibuka rekan-rekan tim SAR langsung melakukan
proses pertolongan kepada warga,” kata salah seorang relawan tim SAR
Kabupaten Magelang, Achadi (43). Selain 117 pengungsi ini, terdapat
juga ratusan pengungsi lain di lokasi pengungsian Desa Tanjung
Kecamatan Muntilan. Mereka telah mengungsi selama tiga bulan. “Kami
tidak berharap apa-apa kepada pemerintah. Yang pasti kami sangat
khawatir dengan keamanan kampung kami, sebab tidak ada patroli polisi.
Relawan pun sudah menarik diri dari desa kami sehingga sangat riskan
dan rawan aksi pencurian,” keluh seorang pengungsi dari Dusun Salakan,
Desa Sirahan, Kristianto (30). Banjir lahar dingin tidak hanya
menenggelamkan rumah tetapi juga sawah sekitar 25 hektar beserta
tanamannya. Tanaman tersebut berupa jagung, cabe dan padi yang
sebenarnya seminggu lagi sudah siap untuk dipanen.
(adi/rdf) Selasa, 22/03/2011 15:17 WIB
Banjir Lahar Dingin Malah Jadi Daya Tarik Turis Asing Parwito – detikNews
Foto: Parwito (detikcom)
Magelang – Usai banjir lahar dingin melanda Desa
Jumoyo, Magelang, Senin kemarin, jalan Magelang-Yogya di Km 13 penuh
debu. Namun justru lahar dingin itu menjadi daya tarik sebagian turis
asing yang sedang berlibur di Yogyakarta. Pantauan detikcom, Selasa
(22/3/2011) di Jembatan Kali Putih, Magelang, arus lalu lintas padat
merayap. Kondisi jalan yang penuh dengan debu beterbangan mengakibatkan
beberapa pengendara melambatkan kendaraanya. “Banyak debu. Jarak
pandang hanya tujuh meter. Takut kalau terjadi kecelakaan karena tidak
dapat melihat dengan jarak pandang yang begitu pendek,” ucap Sudibyo
(55) warga Gunung Kidul, Yogyakarta, yang mengendarai mobil Xenia.
Meski demikian, kondisi ini justru menjadi daya tarik orang dari luar
Magelang. Bahkan, turis-turis asing pun datang untuk melihat langsung
dahsyatnya dampak isi perut Gunung Merapi. Febyola (34) seorang
pemandu wisata dari salah satu biro perjalanan wisata, saat ditemui
detikcom di Jembatan Kali Putih, tampak sedang mengantar 7 wisatawan
dari beberapa negara. Mereka penasaran dengan lahar dingin. “Mereka
dari Amerika, Belanda dan Inggris. Sengaja meminta agen perjalanan kami
untuk mengantar mereka ke Borobudur dan menyempatkan mampir sebentar
di Kali Putih ini,” kata Febyola. Para turis asing ini penasaran.
Mereka selama ini sudah mengetahui soal erupsi Merapi dan dampaknya
dari pemberitaan media internasional. Nah, sekarang mereka ingin
melihat langsung dampak lahar dingin. “Menurut mereka dahsyatnya
banjir lahar dingin material erupsi Merapi menjadi daya tarik. Ini
mereka minta setelah melihat pemberitaan di beberapa media,” ungkap
Febyola.
(fay/nrl)
JEMBATAN PUTUS
Selasa, 22/03/2011 19:47 WIB
Jembatan Putus, Ratusan Warga Lereng Merapi di Boyolali Terisolir Muchus Budi R. – detikNews
Boyolali – Sebuah jembatan penghubung antar desa
di lereng Merapi, putus akibat diterjang hujan deras. Akibatnya,
ratusan warga di dua dukuh yang terletak di kawasan pemukiman tertinggi
lereng Merapi di daerah Boyolali, terisolir total. Hujan deras yang
mengguyur wilayah lereng gunung Merapi, Selasa (22/3/2011) siang hingga
sore mengakibatkan jembatan di Dukuh Takeran, Desa Tlogolele,
Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, putus total. Jembatan
tersebut menghubungkan Dukuh Belang dengan Dukuh Takeran. Akibatnya,
ratusan jiwa warga di Dukuh Takeran dan Dukuh Stabelan yang hanya
berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi saat ini dalam kondisi
terisolir. “Jembatan yang putus adalah satu-satunya akses warga
Takeran dan Stabelan keluar dari dukuhnya. Jembatan itu juga merupakan
jalur ekonomi dan sekaligus jalur evakuasi bagi warga jika terjadi
bencana. Saat ini dua dukuh itu benar-benar terisolir,” ujar Kepala
Desa Tlogolele, Budi Harsono. Dukuh Takeran dihuni 125 Kepala Keluarga
(KK) dengan jumlah jiwa sekitar 400 orang. Sedangkan Dukuh Stabelan
yang berada paling dekat dengan puncak Merapi dihuni 112 KK dengan
jumlah jiwa sekitar 350 orang. Kendaraan milik warga yang berada di
kedua dukuh itu pun tidak bisa keluar. Demikian pula kendaraan warga
yang saat kejadian berada di luar dukuh, saat ini tidak bisa kembali ke
rumah. “Sangat mendesak dibuatkan jembatan darurat, karena ini akses
jalan satu-satunya bagi warga,” lanjut Budi. Selain jembatan putus,
aliran listrik di sejumlah dukuh di Desa Tlogolele saat ini juga padam.
Hal ini dikarenakan adanya tiang listrik yang roboh akibat tanahnya
tergerus erosi, yaitu tiang listrik di Dukuh Tlogomulyo. Akibatnya
aliran listrik mulai dukuh Tlogomulyo hingga Stabelan, padam.
sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar