Kamis, 05 April 2012

Lahar Dingin Merapi



 BANJIR LAHAR DINGIN GUNUNG MERAPI
Selasa, 22/03/2011 21:55 WIB Banjir Lahar Dingin Merapi Menerjang, 117 Warga Mengungsi Parwito – detikNews
merapi-kali-putih-luar.jpg

Magelang – Akibat guyuran hujan di puncak Gunung Merapi, banjir lahar dingin kembali menerjang daerah di sekitar Kali Putih, Magelang. Sebanyak 117 Warga harus mengungsi dari rumahnya. Mereka menambah daftar ratusan orang yang telah mengungsi sebelumnya. 117 warga tersebut berasal dari dusun Krapyak, Desa Sirahan, Kecamatan Sirahan. Mereka diungsikan ke Dusun Gajahan, Desa Gulon, Kecamatan Salam yang relatif lebih aman. “Kami khawatir kalau-kalau banjir lahar dingin yang menerjang menjadi besar dan bernasib sama seperti di Sirahan yang rumahnya rata-rata tenggelam,” ujar salah seorang pengungsi dari Dusun Krapyak, Suryati, kepada detikcom, Selasa (22/3/2011). Pantauan detikcom, dari Pos Pengamatan Merapi di Ngepos, Srumbung, banjir lahar dingin terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Petugas kemudian menyampaikan laporan kepada Tim SAR untuk menutup jalan Magelang-Yogyakarta. “Penutupan hanya selama 30 menit karena banjir relatif kecil. Setelah dibuka rekan-rekan tim SAR langsung melakukan proses pertolongan kepada warga,” kata salah seorang relawan tim SAR Kabupaten Magelang, Achadi (43). Selain 117 pengungsi ini, terdapat juga ratusan pengungsi lain di lokasi pengungsian Desa Tanjung Kecamatan Muntilan. Mereka telah mengungsi selama tiga bulan. “Kami tidak berharap apa-apa kepada pemerintah. Yang pasti kami sangat khawatir dengan keamanan kampung kami, sebab tidak ada patroli polisi. Relawan pun sudah menarik diri dari desa kami sehingga sangat riskan dan rawan aksi pencurian,” keluh seorang pengungsi dari Dusun Salakan, Desa Sirahan, Kristianto (30). Banjir lahar dingin tidak hanya menenggelamkan rumah tetapi juga sawah sekitar 25 hektar beserta tanamannya. Tanaman tersebut berupa jagung, cabe dan padi yang sebenarnya seminggu lagi sudah siap untuk dipanen. (adi/rdf) Selasa, 22/03/2011 15:17 WIB Banjir Lahar Dingin Malah Jadi Daya Tarik Turis Asing Parwito – detikNews
Banjir Lahar Dingin Malah Jadi Daya Tarik Turis Asing Foto: Parwito (detikcom)

Magelang – Usai banjir lahar dingin melanda Desa Jumoyo, Magelang, Senin kemarin, jalan Magelang-Yogya di Km 13 penuh debu. Namun justru lahar dingin itu menjadi daya tarik sebagian turis asing yang sedang berlibur di Yogyakarta. Pantauan detikcom, Selasa (22/3/2011) di Jembatan Kali Putih, Magelang, arus lalu lintas padat merayap. Kondisi jalan yang penuh dengan debu beterbangan mengakibatkan beberapa pengendara melambatkan kendaraanya. “Banyak debu. Jarak pandang hanya tujuh meter. Takut kalau terjadi kecelakaan karena tidak dapat melihat dengan jarak pandang yang begitu pendek,” ucap Sudibyo (55) warga Gunung Kidul, Yogyakarta, yang mengendarai mobil Xenia. Meski demikian, kondisi ini justru menjadi daya tarik orang dari luar Magelang. Bahkan, turis-turis asing pun datang untuk melihat langsung dahsyatnya dampak isi perut Gunung Merapi. Febyola (34) seorang pemandu wisata dari salah satu biro perjalanan wisata, saat ditemui detikcom di Jembatan Kali Putih, tampak sedang mengantar 7 wisatawan dari beberapa negara. Mereka penasaran dengan lahar dingin. “Mereka dari Amerika, Belanda dan Inggris. Sengaja meminta agen perjalanan kami untuk mengantar mereka ke Borobudur dan menyempatkan mampir sebentar di Kali Putih ini,” kata Febyola. Para turis asing ini penasaran. Mereka selama ini sudah mengetahui soal erupsi Merapi dan dampaknya dari pemberitaan media internasional. Nah, sekarang mereka ingin melihat langsung dampak lahar dingin. “Menurut mereka dahsyatnya banjir lahar dingin material erupsi Merapi menjadi daya tarik. Ini mereka minta setelah melihat pemberitaan di beberapa media,” ungkap Febyola. (fay/nrl)

JEMBATAN PUTUS

Selasa, 22/03/2011 19:47 WIB Jembatan Putus, Ratusan Warga Lereng Merapi di Boyolali Terisolir Muchus Budi R. – detikNews

Boyolali – Sebuah jembatan penghubung antar desa di lereng Merapi, putus akibat diterjang hujan deras. Akibatnya, ratusan warga di dua dukuh yang terletak di kawasan pemukiman tertinggi lereng Merapi di daerah Boyolali, terisolir total. Hujan deras yang mengguyur wilayah lereng gunung Merapi, Selasa (22/3/2011) siang hingga sore mengakibatkan jembatan di Dukuh Takeran, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng, putus total. Jembatan tersebut menghubungkan Dukuh Belang dengan Dukuh Takeran. Akibatnya, ratusan jiwa warga di Dukuh Takeran dan Dukuh Stabelan yang hanya berjarak sekitar 3,5 km dari puncak Merapi saat ini dalam kondisi terisolir. “Jembatan yang putus adalah satu-satunya akses warga Takeran dan Stabelan keluar dari dukuhnya. Jembatan itu juga merupakan jalur ekonomi dan sekaligus jalur evakuasi bagi warga jika terjadi bencana. Saat ini dua dukuh itu benar-benar terisolir,” ujar Kepala Desa Tlogolele, Budi Harsono. Dukuh Takeran dihuni 125 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sekitar 400 orang. Sedangkan Dukuh Stabelan yang berada paling dekat dengan puncak Merapi dihuni 112 KK dengan jumlah jiwa sekitar 350 orang. Kendaraan milik warga yang berada di kedua dukuh itu pun tidak bisa keluar. Demikian pula kendaraan warga yang saat kejadian berada di luar dukuh, saat ini tidak bisa kembali ke rumah. “Sangat mendesak dibuatkan jembatan darurat, karena ini akses jalan satu-satunya bagi warga,” lanjut Budi. Selain jembatan putus, aliran listrik di sejumlah dukuh di Desa Tlogolele saat ini juga padam. Hal ini dikarenakan adanya tiang listrik yang roboh akibat tanahnya tergerus erosi, yaitu tiang listrik di Dukuh Tlogomulyo. Akibatnya aliran listrik mulai dukuh Tlogomulyo hingga Stabelan, padam.

sumber

BANJIR

Bencana Alam-Banjir Bengawan Solo Ancam Jatim PDF Print
Wednesday, 04 January 2012
ImageBeberapa warga Solo memilih bertahan di tenda pengungsian yang berada di atas tanggul bantaran sungai Bengawan Solo, kemarin.

BOJONEGORO– Banjir luapan Bengawan Solo, Jawa Tengah (Jateng), mengancam daerah hilir di Provinsi Jawa Timur (Jatim) mulai Bojonegoro,Tuban, Lamongan hingga Gresik.Indikator ancaman adalah ketinggian air pada papan duga di Jurug Solo yang mencapai 10,24 meter (siaga III).

”Banjir luapan Bengawan Solo di Solo,Jateng,terjadi akibat hujan di daerah setempat, bukan dari buangan air Waduk Gajah Mungkur,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo di Bojonegoro Agus Bachtiar kemarin. Dia memperhitungkan,perjalanan air banjir yang terjadi di Solo, Jateng, akan merambah kawasan Bojonegoro dalam waktu 40 jam.

Berdasarkan perhitungan itu, air Bengawan Solo di Bojonegoro mengalami peningkatan secara signifikan sejak tadi malam. Dalam mengantisipasi luapan banjir Bengawan Solo di daerah hilir,Jatim,akibat turunnya banjir di Solo tersebut, pintu sudetan Sedayu lawas di Lamongan,yang mampu mengalirkan air Bengawan Solo, sudah dibuka.Dengan demikian, air Bengawan Solo, selain dialirkan melalui saluran utama di Sembayat, Gresik, juga dibuang ke laut Jawa melalui sudetan sepanjang 13,4 km itu.

”Dengan kondisi Bengawan Solo di hilir sekarang ini,(yaitu) airnya masih kosong, kemungkinan bertambahnya debit air banjir yang terjadi terkendali sepanjang tidak terjadi hujan,” katanya. Dia menggambarkan, banjir besar yang terjadi pada akhir 2008 dan awal 2009, ketinggian air di Jurug,Solo,mencapai 11 meter lebih dan dalam waktu bersamaan ketinggian air di Ndungus, Ngawi, juga mencapai 11 meter lebih.

Jajaran instansi terkait yang menangani masalah banjir di daerah hilir tetap diminta waspada menghadapi ancaman banjir setelah melihat kondisi yang terjadi di Solo, Jateng. Alasannya, kalau dalam waktu bersamaan di daerah hulu dan hilir terjadi hujan, bisa timbul banjir besar. ”Yang jelas melihat perkembangan air banjir di daerah hulu Jateng, kita semua tetap harus waspada,” katanya menegaskan.

Sementara itu, bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jateng hingga kemarin belum sepenuhnya surut. Bahkan di Kabupaten Pekalongan, banjir kemarin merendam 827 rumah di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto.Selama sepekan ini, banjir telah melanda 10 kabupaten/kota. Tak hanya merendam ribuan rumah,banjir tersebut juga merusak ribuan hektare areal persawahan.

Para petani pun terancamgagalpanenkarenapadinya terendam air.Atas kondisi ini,pemerintah siap membantu petani yang merugi tersebut. Pemerintah menjanjikan bantuan hingga Rp3,7 juta per hektare (ha) bagi petani yang mengalami gagal panen atau puso akibat tanaman padinya hancurdilandabanjir.

Definisigagal panen adalah tanaman padinya rusak sekitar 75%.“Perincian bantuan itu, Rp2,6 juta untuk bantuan pengolahan lahan dan Rp1,1 juta untuk pupuk,“ ujar Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di sela acara Panen Pedet di Wonogiri kemarin. abdul alim/sumarno/m rokib.